Renungan Selasa, 06 Oktober 2026
RENUNGAN HARIAN
Selasa, 06 Oktober 2026
Selasa Pekan Biasa XXVII
PF S. Bruno, Imam
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali disibukkan oleh berbagai pekerjaan dan tanggung jawab. Kita berusaha menyelesaikan banyak hal, memenuhi kebutuhan hidup, dan memberikan perhatian kepada orang-orang di sekitar kita. Namun, di tengah kesibukan itu, pernahkah kita berhenti sejenak untuk mendengarkan Tuhan?
Injil hari ini memperlihatkan dua saudari, Marta dan Maria, yang menerima Yesus di rumah mereka. Marta sibuk melayani dan mempersiapkan segala sesuatu, sedangkan Maria duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Ketika Marta merasa terbebani dan meminta Yesus menegur Maria, Yesus justru mengingatkan bahwa Marta khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, sedangkan Maria telah memilih bagian yang terbaik.
Yesus tidak bermaksud mengatakan bahwa pekerjaan dan pelayanan Marta tidak penting. Sebaliknya, Ia mengajak kita memahami bahwa pelayanan yang sejati harus berakar pada hubungan yang dekat dengan Allah. Kesibukan dapat menjadi sesuatu yang baik, tetapi apabila kesibukan membuat kita kehilangan waktu untuk Tuhan, hati kita perlahan-lahan dapat menjadi lelah dan kehilangan arah.
Terkadang kita terlalu sibuk melakukan banyak hal untuk Tuhan, tetapi lupa menyediakan waktu untuk bersama Tuhan. Kita dapat begitu aktif dalam pelayanan, pekerjaan, dan berbagai kegiatan rohani, namun hati kita sendiri justru jarang mendengarkan suara-Nya. Padahal, sebelum kita melayani, kita perlu terlebih dahulu menerima kasih dan Sabda-Nya.
Maria mengajarkan kepada kita bahwa mendengarkan Tuhan bukanlah tanda kemalasan, melainkan sebuah pilihan iman. Ia menyadari bahwa kehadiran Yesus merupakan kesempatan yang berharga. Dengan duduk dekat kaki-Nya, Maria membuka hati untuk menerima Sabda yang memberikan kehidupan.
Bacaan pertama dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia juga memperlihatkan bagaimana perjumpaan dengan Kristus mampu mengubah seluruh arah kehidupan seseorang. Paulus dahulu dikenal sebagai penganiaya jemaat Allah. Namun, setelah Allah berkenan menyatakan Putra-Nya kepadanya, hidup Paulus mengalami perubahan besar. Ia yang dahulu menentang Kristus, kemudian menjadi pewarta Injil yang setia.
Perubahan hidup Paulus mengingatkan kita bahwa Tuhan dapat bekerja dalam diri siapa pun. Masa lalu tidak harus menjadi penentu masa depan. Ketika seseorang membuka hati kepada Allah, rahmat-Nya mampu mengubah cara berpikir, sikap, dan arah kehidupannya. Yang terpenting bukanlah seberapa jauh kita pernah berjalan menjauh dari Tuhan, melainkan kesediaan kita untuk kembali dan mendengarkan panggilan-Nya.
Saudara-saudari terkasih, kehidupan kita mungkin tidak pernah benar-benar bebas dari kesibukan, persoalan, dan tanggung jawab. Namun, kita selalu dapat menyediakan ruang bagi Tuhan dalam hati kita. Melalui doa, membaca Kitab Suci, mengikuti Ekaristi, dan merenungkan Sabda-Nya, kita belajar menemukan kembali ketenangan dan kekuatan untuk menjalani kehidupan.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar banyak perkara hingga kehilangan satu hal yang paling penting, yaitu hubungan pribadi dengan Allah. Sebab, hati yang dekat dengan Tuhan akan memiliki kekuatan untuk menghadapi kesulitan, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan kasih untuk melayani sesama.
Hari ini, marilah kita belajar dari Maria untuk memilih bagian yang terbaik. Bukan berarti meninggalkan tanggung jawab, melainkan menjalankan setiap tanggung jawab dengan hati yang terlebih dahulu dipenuhi oleh Sabda Tuhan. Sebab, dari hati yang mendengarkan Tuhan, lahirlah kehidupan yang penuh damai, kasih, dan pengharapan.
✨ KALIMAT MOTIVASI
Di tengah kesibukan hidup, luangkanlah waktu untuk mendengarkan Tuhan, sebab hati yang dekat dengan-Nya akan menemukan damai dan arah kehidupan.
🙏 DOA
Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas Sabda-Mu yang hari ini mengingatkan kami untuk selalu menyediakan waktu bagi-Mu di tengah kesibukan kehidupan.
Ampunilah kami apabila sering kali terlalu sibuk dengan berbagai urusan duniawi hingga melupakan kehadiran-Mu. Ampunilah kami ketika hati kami dipenuhi kekhawatiran, kecemasan, dan keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu dengan kekuatan sendiri.
Tuhan Yesus, ajarilah kami menjadi seperti Maria yang dengan rendah hati duduk dekat kaki-Mu dan mendengarkan Sabda-Mu. Bimbinglah kami agar setiap pekerjaan dan pelayanan yang kami lakukan selalu berakar pada kasih dan kehendak-Mu.
Seperti Engkau telah mengubah kehidupan Santo Paulus, ubahlah pula hati kami agar semakin setia mengikuti jalan-Mu. Berikanlah kami keberanian untuk meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan kami daripada-Mu.
Semoga dalam setiap langkah kehidupan, kami selalu menemukan waktu untuk mendengarkan suara-Mu, sehingga hati kami dipenuhi damai dan hidup kami menjadi berkat bagi sesama.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Pax Christi — Lux Spes
Mencari Terang, Menyampaikan Harapan.
