TRADISI ARMENIA
SATU GEREJA,
SATU WARISAN IMAN
Mengenal Gereja Katolik Armenia dan kekayaan tradisi kuno dalam Gereja Katolik Universal
Ketika kita memasuki Tradisi Armenia, kita seakan diajak berjalan menuju salah satu lapisan paling tua dalam sejarah Kekristenan. Di balik pegunungan, biara-biara batu, salib-salib khachkar, bahasa kuno, nyanyian liturgis, dan doa-doa yang diwariskan turun-temurun, tersimpan sebuah kesaksian iman yang telah melewati berabad-abad sejarah.
Dalam keluarga Gereja Katolik Timur, Tradisi Armenia memiliki tempat yang khas. Berbeda dengan Tradisi Aleksandria yang memiliki tiga Gereja Katolik Timur, Tradisi Armenia dalam Gereja Katolik diwakili oleh satu Gereja *sui iuris*: Gereja Katolik Armenia.
Namun, satu Gereja bukan berarti sebuah tradisi yang sederhana. Justru di dalam satu Gereja ini kita menemukan warisan iman, sejarah, liturgi, spiritualitas, budaya, dan kesaksian umat Kristen Armenia yang sangat kaya.
Tradisi Armenia mengingatkan kita bahwa Gereja Katolik tidak dibangun hanya dari satu bentuk budaya atau satu pola liturgi. Dalam Gereja yang satu dan universal, terdapat berbagai warisan kuno yang tetap hidup dan memberi kesaksian tentang Kristus.
1. Armenia dan Awal Kekristenan
Armenia mempunyai tempat yang sangat istimewa dalam sejarah Kekristenan. Menurut tradisi sejarah Gereja, pewartaan Injil di Armenia berkaitan dengan para rasul Santo Bartolomeus dan Santo Yudas Tadeus.
Namun, tokoh yang sangat penting dalam kristenisasi Armenia adalah Santo Gregorius Sang Penerang (Gregory the Illuminator). Melalui pewartaannya dan pertobatan Raja Tiridates III, Kekristenan berkembang secara luas di Armenia.
Sekitar tahun 301, Armenia secara tradisional dikenang sebagai bangsa pertama yang menjadikan Kekristenan sebagai agama negara.
Kekristenan di Armenia berkembang sebelum Kekaisaran Romawi secara resmi mengakui Kekristenan melalui Edik Milano pada tahun 313.
Karena itu, sejarah Armenia merupakan salah satu kesaksian penting mengenai betapa awal dan mendalamnya akar Kekristenan di dunia Timur.
2. Dari Tradisi Yerusalem Menuju Tradisi Armenia
Pada abad-abad awal, kehidupan Gereja Armenia mulai memperoleh bentuk yang semakin jelas. Liturginya berkembang dengan pengaruh yang kuat dari tradisi kuno Yerusalem.
Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah bentuk liturgis yang khas Armenia. Bahasa Armenia menjadi bagian penting dalam kehidupan Gereja, terutama setelah berkembangnya alfabet Armenia yang secara tradisional dikaitkan dengan Santo Mesrop Mashtots.
Dengan hadirnya alfabet tersebut, Kitab Suci, teks liturgi, dan tulisan-tulisan para Bapa Gereja dapat diterjemahkan dan dikembangkan dalam bahasa Armenia.
3. Gereja Katolik Armenia
Gereja Katolik Armenia adalah salah satu dari 23 Gereja Katolik Timur *sui iuris* yang berada dalam persekutuan penuh dengan Uskup Roma.
Gereja ini memiliki identitas Armenia yang kuat, termasuk dalam kehidupan liturgi, spiritualitas, tradisi gerejawi dan kebudayaan. Kepemimpinannya secara tradisional berkaitan dengan Patriarkat Kilikia bagi orang-orang Armenia.
Sejarah hubungan sebagian umat Armenia dengan Gereja Roma mengalami perjalanan panjang. Hubungan tersebut tidak berlangsung dalam satu tahap, tetapi melalui berbagai peristiwa sejarah, dialog, misi dan perkembangan komunitas Katolik Armenia.
Pada tahun 1740, para uskup Armenia yang berada dalam hubungan dengan Roma memilih seorang patriark Katolik. Pada tahun 1742, Takhta Patriarkat Katolik Armenia kemudian didirikan di Bzommar, Lebanon.
4. Sebuah Gereja yang Membawa Identitas Armenia
Salah satu hal yang menarik dari Gereja Katolik Armenia adalah bagaimana iman Katolik dapat hidup bersama dengan identitas budaya dan sejarah suatu bangsa tanpa kehilangan persekutuan dengan Gereja universal.
Dalam liturgi, bahasa Armenia, musik, simbol, doa dan berbagai bentuk ekspresi iman menjadi bagian dari warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal ini memperlihatkan bahwa menjadi Katolik tidak berarti seseorang harus kehilangan seluruh kekayaan budaya dan sejarah Gerejanya.
5. Liturgi Armenia: Iman yang Dirayakan
Liturgi Armenia mempunyai bentuk yang sangat khas. Perayaan Ekaristi dikenal sebagai Divine Liturgy dan memiliki struktur, doa, nyanyian serta simbol-simbol yang berkembang dalam sejarah Gereja Armenia.
Dalam perayaan liturgi, umat tidak hanya mendengarkan kata-kata. Seluruh perayaan mengajak umat memasuki misteri Kristus melalui Kitab Suci, doa, nyanyian, dupa, gerak liturgis dan terutama perayaan Ekaristi.
Liturgi adalah cara Gereja menghidupi dan merayakan misteri keselamatan. Karena itu, bentuk liturgi yang berbeda tidak dengan sendirinya berarti iman yang berbeda.
Yang mempersatukan Gereja adalah Kristus, iman apostolik, Sakramen-sakramen dan persekutuan Gereja.
6. Khachkar: Salib yang Berbicara
Salah satu simbol yang sangat terkenal dari kebudayaan Kristen Armenia adalah khachkar, yaitu batu salib yang dihiasi dengan ukiran yang sangat indah.
Khachkar bukan sekadar karya seni. Dalam sejarah Armenia, salib menjadi tanda iman, kenangan, doa dan identitas Kristen.
Salib yang terukir pada batu seakan menyampaikan sebuah pesan: sejarah boleh berubah, kerajaan dapat runtuh, bangsa dapat mengalami penderitaan, tetapi Kristus tetap menjadi pusat iman.
7. Gereja yang Melewati Banyak Penderitaan
Sejarah Armenia tidak selalu berjalan dalam kedamaian. Umat Kristen Armenia mengalami berbagai peperangan, perpindahan, penganiayaan dan diaspora.
Namun pengalaman tersebut juga membentuk spiritualitas yang kuat: iman tidak hanya dirayakan ketika keadaan mudah, tetapi juga dipertahankan ketika kesetiaan kepada Kristus menuntut pengorbanan.
Kesaksian para martir dan para kudus Armenia menjadi bagian dari ingatan Gereja. Mereka menunjukkan bahwa kekristenan bukan hanya sebuah identitas budaya, tetapi sebuah keputusan untuk tetap mengikuti Kristus.
8. Jejak Sejarah dalam Garis Waktu
Armenia secara tradisional dikenang sebagai bangsa pertama yang menjadikan Kekristenan sebagai agama negara.
Tradisi Gereja Armenia semakin berkembang dan liturginya memperoleh bentuk yang khas, dengan pengaruh kuat dari tradisi kuno Yerusalem.
Hubungan dan keterbukaan terhadap Gereja Roma mulai memperoleh bentuk yang semakin nyata dalam perjalanan sejarah Armenia.
Perkembangan penting bagi komunitas Katolik Armenia terjadi dengan pemilihan patriark Katolik dan pendirian Takhta Patriarkat Katolik Armenia di Bzommar.
Gereja Katolik Armenia terus menjaga warisan iman dan tradisinya dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik universal, baik di tanah Armenia maupun dalam komunitas diaspora.
9. Apa yang Dapat Kita Pelajari?
Gereja Katolik Armenia mengajarkan kepada kita bahwa kesatuan tidak harus berarti keseragaman.
Gereja dapat memiliki bahasa yang berbeda, musik yang berbeda, tradisi liturgis yang berbeda dan sejarah budaya yang berbeda, tetapi tetap menjadi satu dalam Kristus.
Inilah salah satu keindahan Gereja Katolik universal. Tradisi-tradisi kuno tidak harus dihapus agar Gereja menjadi satu. Sebaliknya, kekayaan masing-masing tradisi dapat menjadi bagian dari kekayaan seluruh Tubuh Kristus.
Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Gereja Katolik menghargai warisan liturgi, tradisi gerejawi dan kehidupan Kristiani Gereja-Gereja Timur sebagai bagian dari warisan Gereja universal.
Karena itu, mengenal Gereja Katolik Armenia bukan sekadar mempelajari Gereja yang jauh dari kita. Kita sedang mengenal salah satu bagian dari kekayaan rumah kita sendiri: Gereja Katolik yang universal.
10. Gereja Katolik Tidak Kehilangan Wajahnya karena Beragam
Ada kalanya kita mengira bahwa Gereja Katolik harus selalu terlihat sama di mana-mana. Kita membayangkan bahwa kesatuan Gereja berarti semua umat harus mempunyai bentuk liturgi, budaya dan ekspresi iman yang sama.
Tetapi ketika kita melihat Tradisi Armenia, kita menemukan sesuatu yang lebih indah.
Gereja tetap satu meskipun wajah liturginya dapat berbeda. Kesatuan tidak dibangun dengan menghapus identitas, tetapi dengan mengarahkan segala perbedaan kepada Kristus.
Karena itu, ketika seorang Katolik Latin melihat liturgi Armenia, respons yang paling tepat bukanlah, "Mengapa mereka berbeda dari kita?"
Melainkan: "Betapa luasnya Gereja Kristus yang saya miliki."
Refleksi
Iman yang diwariskan tidak dimaksudkan hanya untuk disimpan. Ia harus dihidupi, dirayakan dan diteruskan.
Gereja Katolik Armenia telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Dalam liturgi, bahasa, salib, doa dan kesaksian umatnya, kita menemukan sebuah pesan sederhana:
Kesetiaan kepada Kristus dapat bertahan melewati zaman.
Mungkin kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah iman yang saya terima dari Gereja sungguh saya hidupi, atau hanya saya warisi sebagai kebiasaan?
Penutup
Tradisi Armenia adalah sebuah jendela menuju masa awal Kekristenan. Di dalamnya kita melihat Gereja yang telah berakar kuat dalam sejarah, mengalami penderitaan, menjaga bahasanya, mengembangkan liturginya dan terus membawa nama Kristus dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Gereja Katolik Armenia menunjukkan bahwa sebuah Gereja dapat tetap memiliki identitas yang sangat khas sekaligus hidup dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik universal.
Dari Aleksandria kita belajar tentang kekayaan tradisi yang berkembang di Afrika dan Mesir. Dari Armenia kita belajar tentang kesetiaan sebuah bangsa yang telah memeluk Kristus sejak masa awal Gereja.
Perjalanan kita belum selesai. Masih ada tradisi besar lainnya yang menunggu untuk kita kenal.
Setelah mengenal Tradisi Aleksandria dan Tradisi Armenia, perjalanan kita akan memasuki salah satu keluarga tradisi terbesar dalam Gereja Katolik Timur: Tradisi Bizantium.
Di sana kita akan menemukan banyak Gereja Katolik Timur dengan sejarah, bahasa, budaya dan kekayaan liturgi yang beragam, namun tetap berada dalam satu persekutuan iman.

