Renungan Sabtu Pekan Biasa XXII - 5 September 2026

Jangan Biarkan Aturan Membuat Hatimu Kehilangan Kasih

“Jangan biarkan aturan membuat hatimu kehilangan kasih. Sebab di atas segala sesuatu, Tuhan menghendaki kita hidup dalam kasih dan belas kasih.”

Bacaan Injil: Lukas 6:1-5

“Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
(Luk 6:5)

Dalam Injil hari ini, Yesus berhadapan dengan orang-orang Farisi yang mempersoalkan tindakan para murid yang memetik bulir gandum pada hari Sabat. Bagi mereka, aturan harus dijalankan secara ketat. Namun Yesus mengajak mereka melihat sesuatu yang lebih dalam: bahwa hukum Allah tidak pernah dimaksudkan untuk menjauhkan manusia dari kehidupan, kasih, dan belas kasih.

Sering kali dalam kehidupan, kita juga mudah terjebak pada aturan. Kita begitu sibuk mempertanyakan apakah sesuatu sudah sesuai dengan ketentuan, sampai lupa bertanya apakah hati kita masih memiliki kasih. Kita dapat benar dalam aturan, tetapi kehilangan kelembutan hati. Kita dapat merasa paling benar, tetapi lupa bahwa di hadapan Tuhan, kasih kepada sesama tidak boleh dikalahkan oleh sikap menghakimi.

Yesus tidak mengajarkan kita untuk mengabaikan aturan. Sebaliknya, Ia mengajarkan bahwa aturan harus ditempatkan pada tujuan yang benar: membawa manusia semakin dekat kepada Allah dan semakin mampu mengasihi sesamanya. Hukum yang berasal dari Allah tidak pernah bertentangan dengan kasih, sebab kasih adalah inti dari kehidupan bersama Allah.

Karena itu, hari ini kita diajak untuk memeriksa kembali hati kita. Ketika berhadapan dengan kesalahan orang lain, apakah kita lebih cepat menghakimi atau berusaha memahami? Ketika melihat seseorang berada dalam kesulitan, apakah kita hanya berkata bahwa itu bukan tanggung jawab kita, ataukah kita tergerak untuk menolong?

Santa Teresa dari Kalkuta memberikan kesaksian yang sangat indah tentang kasih yang diwujudkan dalam tindakan. Kasih tidak selalu hadir melalui sesuatu yang besar. Kadang-kadang kasih hadir melalui perhatian sederhana, sepatah kata yang menguatkan, pengampunan, atau kesediaan untuk hadir bagi seseorang yang sedang membutuhkan.

Hari ini, marilah kita belajar dari Yesus: jangan sampai kebenaran yang kita pegang membuat hati kita kehilangan belas kasih. Sebab menjadi murid Kristus bukan hanya tentang mengetahui apa yang benar, tetapi juga tentang menghadirkan kasih Allah melalui hidup kita.

Kiranya setiap aturan, keputusan, dan tindakan yang kita lakukan selalu membawa kita semakin dekat kepada kasih. Dan ketika kita harus memilih antara menjadi orang yang sekadar merasa benar atau menjadi orang yang menghadirkan belas kasih, semoga kita berani memilih jalan yang diajarkan Kristus.

Tuhan, ajarlah kami untuk mencintai seperti Engkau mencintai. Jangan biarkan hati kami menjadi keras karena aturan, tetapi lembutkanlah hati kami agar selalu mampu melihat, memahami, mengampuni, dan mengasihi.

Amin.

2