Renungan Minggu 6 September 2026 Minggu Biasa XXIII
Menegur dengan Kasih Bukan Menghakimi
“Menegur dengan kasih bukan menghakimi; itu adalah cara kita menjaga sesama agar tidak kehilangan jalan.”
Bacaan Injil: Matius 18:15-20
“Jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.”
(Mat 18:15)
Ada kalanya kita melihat seseorang yang kita kasihi mulai berjalan ke arah yang salah. Kita mengetahui kesalahannya, melihat pilihannya, bahkan mungkin tahu bahwa apa yang dilakukannya dapat membawa akibat buruk bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Namun sering kali kita memilih diam. Kita takut dianggap mencampuri urusan orang lain, takut hubungan menjadi renggang, atau takut teguran kita justru membuatnya tersinggung.
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kasih tidak selalu berarti diam. Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel menerima tugas sebagai penjaga bagi umat Israel. Ia diminta memperingatkan orang yang menyimpang. Jika ia tidak mengingatkan, ia ikut memikul tanggung jawab atas kebinasaan orang tersebut. Tetapi jika ia sudah memperingatkan dan orang itu tidak mau berubah, tanggung jawab itu tidak lagi berada pada dirinya (bdk. Yeh 33:7-9).
Ini mengajarkan kepada kita bahwa kasih memiliki keberanian. Orang yang sungguh peduli tidak hanya hadir ketika semuanya baik-baik saja. Ia juga berani berkata, “Apa yang engkau lakukan mungkin tidak benar. Aku mengatakan ini bukan karena aku membencimu, tetapi karena aku peduli kepadamu.”
Namun Yesus memberikan cara yang sangat indah dalam menegur. Ia tidak meminta kita mempermalukan orang yang bersalah di hadapan banyak orang. “Tegurlah dia di bawah empat mata.” Teguran pertama-tama adalah sebuah percakapan dari hati ke hati. Tujuannya bukan memenangkan perdebatan, bukan membuktikan bahwa kita lebih benar, tetapi membantu saudara kita menemukan kembali jalan yang benar.
Di sinilah bacaan kedua menjadi sangat penting. Santo Paulus berkata bahwa “kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia” dan karena itu kasih merupakan pemenuhan hukum (Rm 13:8-10). Artinya, bahkan ketika kita harus mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan, dasar tindakan kita harus tetap kasih. Teguran yang lahir dari kebencian akan menjadi penghakiman. Tetapi teguran yang lahir dari kasih dapat menjadi jalan keselamatan.
Kita juga perlu bercermin. Jangan sampai kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak pernah melihat kelemahan diri sendiri. Menegur bukan berarti kita sempurna. Kita pun adalah manusia yang pernah jatuh, pernah salah, dan membutuhkan orang lain untuk mengingatkan kita.
Karena itu, sebelum menegur seseorang, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya menegur karena saya sungguh mengasihi, atau karena saya ingin menunjukkan bahwa saya lebih benar? Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita berbicara kepada sesama.
Yesus juga menjanjikan kehadiran-Nya ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya. Ini mengingatkan kita bahwa usaha untuk memulihkan hubungan dan membawa seseorang kembali kepada jalan yang benar bukanlah pekerjaan kita seorang diri. Tuhan hadir di tengah usaha kita untuk berdamai, mengampuni, dan menyelamatkan persaudaraan.
Maka hari ini, jangan takut untuk peduli. Jangan takut untuk mengingatkan orang yang kita kasihi. Tetapi lakukanlah dengan kerendahan hati, kelembutan, dan kasih. Sebab tujuan kita bukan menjatuhkan seseorang, melainkan membantunya berdiri kembali.
Menegur dengan kasih bukan menghakimi; itu adalah cara kita menjaga sesama agar tidak kehilangan jalan. Dan ketika suatu hari kita sendiri tersesat, semoga kita pun memiliki saudara yang cukup mengasihi kita untuk datang, menegur, dan menuntun kita kembali kepada Tuhan.
Doa:
Tuhan, ajarlah kami memiliki hati yang penuh kasih. Berilah kami keberanian untuk mengingatkan ketika melihat sesama mulai menjauh dari jalan-Mu, tetapi jauhkanlah kami dari sikap menghakimi. Ajarlah kami menegur dengan kelembutan, mengampuni dengan tulus, dan selalu berusaha membawa satu sama lain kembali kepada kasih-Mu.
Amin.


