Renungan Harian • Kamis, Pekan Biasa XXII Ketika Tuhan Memanggil, Tebarkanlah Jala Sekali Lagi
Ketika Tuhan Memanggil, Tebarkanlah Jala Sekali Lagi
Renungan Harian • Kamis, Pekan Biasa XXII
“Ketika Tuhan memanggil, jangan takut menebarkan jala sekali lagi. Sebab bersama-Nya, kegagalan bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sebuah perutusan.”
Renungan
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Kita telah menebarkan jala, bekerja keras, berdoa, dan berharap. Namun yang kita dapatkan seolah-olah hanya kekosongan. Pada saat seperti itu, mudah sekali bagi kita untuk berkata, “Sudahlah, percuma mencoba lagi.”
Pengalaman seperti itu juga dialami Petrus dan para nelayan lainnya. Mereka telah bekerja sepanjang malam, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Mereka pasti mengenal danau itu, mengetahui cara bekerja sebagai nelayan, dan memahami bahwa malam adalah waktu yang tepat untuk menangkap ikan. Namun usaha mereka tetap berakhir dengan kegagalan.
Menariknya, justru di tengah kegagalan itulah Yesus datang.
Yesus tidak datang ketika jala mereka sudah penuh. Ia datang ketika jala mereka kosong. Ia tidak menunggu Petrus berhasil terlebih dahulu untuk memanggilnya. Sebaliknya, Yesus masuk ke dalam pengalaman kegagalan Petrus dan dari sana memberikan sebuah perintah sederhana: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”
Petrus sebenarnya mempunyai alasan untuk ragu. Ia sudah mencoba sepanjang malam. Namun ia memilih untuk percaya: “Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dari ketaatan sederhana itu, sesuatu yang tidak mereka sangka terjadi.
Di sinilah kita menemukan sebuah pelajaran penting: Tuhan tidak selalu memanggil kita setelah kita berhasil. Kadang-kadang Ia justru memanggil kita melalui pengalaman gagal, kecewa, dan merasa tidak berdaya.
Bacaan pertama mengingatkan kita agar tidak terlalu mengandalkan apa yang menurut dunia disebut sebagai kebijaksanaan. Hikmat dunia sering membuat manusia merasa bahwa ia harus mampu mengendalikan semuanya sendiri. Tetapi jalan Allah berbeda. Apa yang tampak lemah di mata manusia dapat menjadi tempat karya Allah dinyatakan.
Petrus akhirnya menyadari bahwa keberhasilan itu bukan semata-mata karena kemampuan dirinya sebagai nelayan. Ia berhadapan dengan Pribadi yang jauh lebih besar daripada dirinya. Karena itu ia berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Namun Yesus tidak pergi.
Justru kepada Petrus yang menyadari kelemahannya itulah Yesus berkata, “Jangan takut.”
Betapa indahnya. Yesus tidak berkata, “Jangan takut karena engkau sudah sempurna.” Ia juga tidak berkata, “Jangan takut karena engkau tidak pernah gagal.” Yesus berkata, “Jangan takut,” lalu memberikan perutusan.
Petrus yang sebelumnya menebarkan jala untuk mencari ikan, kini dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Kegagalannya tidak menjadi akhir hidupnya. Pengalaman itu justru menjadi pintu menuju panggilan yang lebih besar.
Demikian pula dengan hidup kita. Mungkin ada jala yang pernah kita tebarkan tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin ada doa yang terasa belum terjawab. Ada usaha yang gagal. Ada keputusan yang kita sesali. Ada kesempatan yang terlewat. Bahkan mungkin ada bagian dari masa lalu yang membuat kita merasa tidak layak untuk memulai kembali.
Tetapi Injil hari ini mengingatkan: Tuhan tidak melihat kita hanya berdasarkan kegagalan kita.
Ia melihat kemungkinan baru yang dapat lahir ketika kita berani percaya kepada-Nya.
Maka ketika Tuhan berkata, “Tebarkanlah jalamu sekali lagi,” jangan biarkan kegagalan masa lalu membuat kita berhenti. Kita tidak tahu apa yang sedang Tuhan siapkan di balik ketaatan kecil kita hari ini.
Bisa jadi, jala yang kita tebarkan kembali bukan hanya membawa berkat bagi diri kita sendiri. Bisa jadi melalui pengalaman hidup kita, luka kita, pertobatan kita, dan bahkan kegagalan kita, Tuhan ingin menjadikan kita sarana untuk menguatkan orang lain.
Sebab bersama Tuhan, kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Kegagalan dapat menjadi awal dari sebuah perutusan.
Refleksi
Apa “jala kosong” dalam hidupku saat ini?
Apakah ada sesuatu yang membuatku takut mencoba kembali karena pernah gagal?
Maukah aku, seperti Petrus, berkata kepada Yesus: “Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”?
Mungkin hari ini Tuhan tidak meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Mungkin Ia hanya meminta kita percaya sedikit lebih dalam, berani melangkah sekali lagi, mengampuni sekali lagi, berdoa sekali lagi, atau membuka hati sekali lagi.
Doa
Tuhan Yesus,
Engkau mengetahui segala kegagalan, kekecewaan, ketakutan, dan kelemahanku. Engkau mengetahui berapa kali aku merasa lelah karena usahaku seolah tidak menghasilkan apa-apa.
Hari ini Engkau kembali berkata kepadaku, “Jangan takut.”
Berilah aku keberanian untuk percaya kepada-Mu. Ketika jalaku kosong, ajarlah aku untuk tidak menyerah. Ketika aku gagal, ajarlah aku melihat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan.
Tuntunlah aku untuk menebarkan jalaku sekali lagi, bukan hanya mengandalkan kekuatanku sendiri, tetapi dengan percaya pada kehendak-Mu.
Jika Engkau memanggilku untuk menjadi alat kasih-Mu, jadikanlah seluruh pengalaman hidupku—termasuk kelemahan dan kegagalanku—sebagai jalan untuk membawa pengharapan bagi sesamaku.
Seperti Petrus, semoga aku berani meninggalkan ketakutanku dan menjawab panggilan-Mu.
Tuhan, aku percaya kepada-Mu.
Tuntunlah langkahku dan jadikanlah hidupku bagian dari perutusan-Mu.
Amin.
1Kor 3:18-23 • Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6 • Mat 4:19 • Luk 5:1-11


