Dua Seragam, Satu Panggilan: Kisah Romo Cokky Melayani Tuhan dan Sesama
Dua Seragam, Satu Panggilan:
Kisah Romo Cokky Melayani Tuhan dan Sesama
Sebuah kisah tentang imamat, pengutusan, pelayanan, dan keberanian menghadirkan Gereja di ruang yang tidak biasa.
Ada kisah-kisah yang menarik bukan karena kemegahannya, tetapi karena ia memperlihatkan kepada kita bahwa panggilan untuk melayani dapat mengambil jalan yang tidak biasa.
Bayangkan seorang imam Katolik mengenakan jubah untuk merayakan Ekaristi, tetapi pada kesempatan lain mengenakan seragam kepolisian dan menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda).
Dialah Romo Oktovianus Pelagian Ranta, seorang imam dari Keuskupan Ruteng, Nusa Tenggara Timur, yang mencatat sebuah sejarah baru dalam perjalanan pelayanan Gereja dan Kepolisian Republik Indonesia.
Kisahnya bukan sekadar tentang dua seragam. Ini adalah kisah tentang satu panggilan untuk melayani Tuhan dan sesama.
Bukan Dua Jalan yang Bertentangan
Pada pandangan pertama, menjadi imam dan menjadi perwira polisi mungkin tampak seperti dua jalan yang sangat berbeda.
Yang satu berdiri di altar, merayakan Ekaristi, mewartakan Injil dan mendampingi umat.
Yang lain berdiri dalam barisan, menjalankan tugas negara, menjaga keamanan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Namun kehidupan Romo Cokky memperlihatkan bahwa keduanya tidak selalu harus ditempatkan sebagai dua jalan yang saling bertentangan.
Di balik keduanya terdapat satu kata yang sama: pelayanan.
Dari Keuskupan Ruteng Menuju Kepolisian
Romo Oktovianus Pelagian Ranta berasal dari Keuskupan Ruteng. Ketika dinyatakan lulus seleksi SIPSS Polri tahun 2024, usianya masih 29 tahun.
Ia mengikuti proses tersebut sebagai bagian dari pengutusan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat.
Dengan demikian, kisah ini sejak awal memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar seorang imam yang mengikuti seleksi kepolisian.
Ada unsur perutusan di dalamnya.
Gereja mengutus seorang imam untuk hadir dalam lingkungan yang membutuhkan pelayanan rohani, khususnya bagi anggota TNI dan Polri yang beragama Katolik.
Di sinilah kita mulai memahami mengapa dua seragam itu sebenarnya tidak harus berarti dua panggilan.
Mengenal Lebih Dekat Romo Cokky: Imam dan Perwira Polri
Tonton Video Reels di FacebookVideo akan terbuka di Facebook.
Dari Seminari Menuju Akademi Kepolisian
Sebelum memasuki dunia kepolisian, Romo Cokky telah menjalani perjalanan panjang dalam pendidikan dan pembinaan imamat.
Ia menempuh pendidikan di lingkungan seminari dan pendidikan filsafat-teologi, kemudian ditahbiskan menjadi imam diosesan pada Oktober 2023.
Setelah tahbisan, ia pernah menjalankan tugas pastoral sebagai pastor rekan di Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Lembor, Manggarai Barat.
Belum lama menjalani pelayanan sebagai imam, sebuah jalan pelayanan baru terbuka.
Ia mengikuti Seleksi Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) Polri tahun 2024.
Dan sejarah pun tercatat.
Romo Cokky diberitakan sebagai imam Katolik pertama di Indonesia yang lulus seleksi perwira Polri melalui jalur SIPSS.
Setelah dinyatakan lulus, ia menjalani pendidikan pembentukan perwira di Akademi Kepolisian (Akpol) Lemdiklat Polri, Semarang, Jawa Tengah, selama kurang lebih enam bulan.
Perjalanan dari seminari menuju akademi kepolisian itu tentu bukan sebuah perjalanan biasa.
Tetapi mungkin justru di sanalah kita dapat melihat sesuatu yang lebih besar:
Panggilan Tuhan dapat membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Menjadi Perwira Polri
Jalur SIPSS merupakan salah satu jalur penerimaan Perwira Pertama Polri dari sumber sarjana.
Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Romo Oktovianus Pelagian Ranta memperoleh pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda).
Pangkat itu menjadikannya seorang Perwira Pertama Polri.
Namun bagi seorang imam, pangkat tentu bukanlah inti dari panggilan.
Seragam dan pangkat adalah identitas kedinasan. Sedangkan imamat adalah panggilan pelayanan Gereja.
Keduanya dapat hadir dalam satu pribadi tanpa harus menghapus salah satunya.
Ketika Panggilan Menjadi Kehadiran
Ada bentuk pewartaan yang dilakukan melalui kata-kata. Ada pula pewartaan yang dilakukan melalui kehadiran.
Seorang imam dapat berkhotbah di hadapan umat. Tetapi seorang imam juga dapat menjadi tanda kehadiran Gereja di tempat-tempat yang mungkin tidak selalu mudah dijangkau oleh kehidupan pastoral biasa.
Lingkungan TNI dan Polri adalah salah satu ruang tersebut.
Di sana ada manusia dengan segala pergumulannya. Ada anggota yang bertugas jauh dari keluarga. Ada mereka yang menghadapi tekanan pekerjaan. Ada mereka yang membutuhkan pendampingan rohani.
Dan di tengah kehidupan seperti itu, kehadiran seorang imam bukan sekadar menjalankan tugas administratif keagamaan.
Ia membawa sesuatu yang lebih mendasar: kehadiran Gereja.
Imam di Tengah Dunia yang Berbeda
Menarik untuk melihat kisah Romo Cokky bukan dari pertanyaan, “Mengapa seorang imam menjadi polisi?”
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Ke mana Gereja mengutus seorang imam untuk hadir?”
Pertanyaan ini mengubah cara kita melihat kisahnya.
Gereja tidak hanya hadir di dalam gedung gereja. Gereja hadir ketika umat membutuhkan pendampingan. Gereja hadir di tengah keluarga. Gereja hadir di tengah masyarakat. Dan Gereja juga hadir di tengah mereka yang menjalankan tugas negara.
Karena itu, seorang imam yang hadir dalam lingkungan TNI-Polri bukan berarti meninggalkan dunia pastoral.
Bisa jadi, justru itulah bentuk pastoral yang sedang dijalankannya.
Dari Flores, Sebuah Kisah yang Menguatkan
Ada sesuatu yang indah dalam kisah ini.
Romo Cokky berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur—tanah yang memiliki tradisi Katolik yang begitu kuat.
Dari lingkungan seminari, ia belajar mengenal Tuhan. Dari pendidikan filsafat dan teologi, ia belajar memahami iman. Dari altar, ia belajar melayani umat. Dan melalui kepolisian, ia memasuki ruang pelayanan yang berbeda.
Semua pengalaman itu akhirnya bertemu dalam satu kata: pengabdian.
Dua Seragam, Satu Panggilan
Dua seragam dapat dikenakan oleh satu orang.
Jubah mengingatkan pada imamat. Seragam kepolisian mengingatkan pada tanggung jawab sebagai perwira negara.
Tetapi di balik keduanya terdapat seorang manusia yang dipanggil untuk melayani.
Di satu sisi, ia membawa kabar keselamatan. Di sisi lain, ia menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari institusi negara.
Di satu sisi, ia berdiri sebagai imam. Di sisi lain, ia berdiri sebagai perwira.
Namun keduanya tidak harus dipertentangkan.
Sebab panggilan untuk melayani tidak selalu membawa seseorang ke tempat yang mudah dipahami orang lain.
Kadang Tuhan justru menempatkan seseorang di tempat yang tidak biasa agar melalui kehadirannya, semakin banyak orang merasakan kasih, penghiburan dan pengharapan.
Sebuah Refleksi bagi Kita
Kisah Romo Cokky juga mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:
Di mana Tuhan sedang mengutus kita?
Tidak semua orang dipanggil menjadi imam. Tidak semua orang dipanggil menjadi polisi. Tidak semua orang dipanggil untuk berdiri di depan banyak orang.
Tetapi setiap orang dipanggil untuk memberikan sesuatu bagi sesamanya.
Ada yang melayani melalui profesinya. Ada yang melayani melalui keluarganya. Ada yang melayani melalui pendidikan. Ada yang melayani melalui karya sosial. Ada pula yang melayani dalam keheningan, tanpa pernah dikenal banyak orang.
Yang terpenting bukan seberapa besar tempat kita berada. Yang terpenting adalah seberapa sungguh kita menghadirkan kasih Tuhan di tempat kita ditempatkan.
Flores, Semoga Pulih
Kisah Romo Cokky terasa semakin dekat ketika kita mengingat tanah kelahirannya, Flores.
Di tengah berbagai cobaan yang dialami masyarakat Flores, termasuk bencana yang menimpa saudara-saudara kita, kepedulian dan pelayanan menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Di sanalah kita kembali menemukan makna dari sebuah panggilan.
Panggilan bukan hanya tentang apa yang kita katakan. Panggilan adalah tentang kehadiran ketika sesama membutuhkan kita.
Semoga Flores segera pulih.
Semoga mereka yang sedang mengalami penderitaan memperoleh kekuatan.
Dan semoga semakin banyak orang tergerak untuk hadir, membantu dan menguatkan.
Tempat pelayanan boleh berubah.
Tugas boleh tidak sama.
Tetapi semuanya dapat bertemu dalam satu panggilan:
MELAYANI.


