Renungan St. Perawan Maria diangkat Ke Surga
Jadilah Pembawa Berkat Kristus yang Kamu Terima bagi Sesama
Renungan – Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Dalam Injil, kita melihat Maria yang baru saja menerima kabar sukacita dari Allah. Ia menerima panggilan yang begitu besar: menjadi ibu bagi Sang Juruselamat. Namun Maria tidak berhenti pada pengalaman pribadi bersama Allah. Setelah menerima Kristus, ia segera bergegas pergi mengunjungi Elisabet.
Di sinilah kita menemukan sesuatu yang indah tentang iman Maria. Maria menerima Kristus, lalu membawa Kristus kepada sesama. Kehadiran Maria di rumah Elisabet menjadi kehadiran yang membawa sukacita. Bayi yang dikandung Elisabet pun melonjak kegirangan. Maria tidak datang untuk mencari perhatian bagi dirinya sendiri. Ia datang membawa kasih Allah yang telah terlebih dahulu memenuhi hidupnya.
Sering kali kita pun menerima begitu banyak berkat dari Tuhan. Kita menerima kehidupan, keluarga, sahabat, pengampunan, kesempatan untuk berubah, kekuatan ketika menghadapi kesulitan, dan begitu banyak rahmat yang kadang baru kita sadari setelah semuanya berlalu. Tetapi pertanyaannya: apakah berkat itu berhenti pada diri kita?
Maria mengajarkan bahwa berkat dari Tuhan bukanlah sesuatu yang hanya untuk dinikmati sendiri. Berkat menjadi semakin bermakna ketika kita membagikannya. Kasih yang kita terima dari Kristus dapat menjadi penghiburan bagi seseorang yang sedang bersedih. Pengampunan yang kita alami dapat membuat kita belajar mengampuni. Pengharapan yang Tuhan berikan kepada kita dapat menjadi kekuatan bagi seseorang yang sedang kehilangan harapan.
Karena itu, menjadi orang yang diberkati bukan berarti hidup kita harus selalu bebas dari masalah. Maria sendiri mengalami perjalanan hidup yang tidak mudah. Ia menerima kehendak Allah dengan iman, tetapi perjalanan itu juga membawanya kepada penderitaan dan salib. Namun Maria tetap setia. Ia tidak membiarkan penderitaan membuatnya berhenti menjadi pembawa kasih Allah.
Dalam bacaan pertama, kita melihat gambaran perempuan yang berhadapan dengan kekuatan naga. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa kehidupan iman tidak selalu berjalan tanpa perjuangan. Ada pergumulan, ada kejahatan, ada penderitaan, dan ada saat-saat ketika kita merasa seolah-olah berada dalam keadaan yang sulit. Namun kemenangan terakhir tetap berada di pihak Allah.
Bacaan kedua mengarahkan pandangan kita kepada Kristus yang telah bangkit. Kristus adalah buah sulung kebangkitan. Karena itu, pengangkatan Maria ke Surga bukan sekadar sebuah peristiwa tentang Maria, tetapi juga tanda pengharapan bagi umat beriman. Allah menunjukkan kepada kita tujuan akhir kehidupan: persekutuan dengan-Nya dalam kemuliaan.
Maria yang diangkat ke Surga mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup kita juga mempunyai tujuan. Kita tidak berjalan tanpa arah. Kita berjalan menuju Allah. Dan selama masih berada dalam perjalanan di dunia, kita dipanggil untuk membawa Kristus kepada orang-orang yang kita jumpai.
Maka, mungkin kita tidak dapat melakukan sesuatu yang besar. Kita mungkin tidak memiliki banyak harta, jabatan, atau kemampuan luar biasa. Tetapi kita selalu dapat menjadi pembawa berkat melalui hal-hal sederhana: sebuah perkataan yang baik, kesediaan mendengarkan, pertolongan kecil, pengampunan, doa, kesabaran, dan kehadiran yang memberikan damai.
Maria tidak hanya menerima Kristus dalam dirinya. Ia membawa Kristus dalam hidupnya. Demikian pula kita. Kristus yang kita terima dalam iman, dalam doa, dalam Sabda, dan terutama dalam Ekaristi, hendaknya tidak berhenti di dalam diri kita. Kristus yang kita terima hendaknya tampak dalam cara kita berbicara, memperlakukan sesama, mengampuni, melayani, dan menghadapi kehidupan.
Hari ini mari kita bertanya kepada diri sendiri:
- Apa berkat Kristus yang telah saya terima dalam hidup saya?
- Sudahkah saya membagikan berkat itu kepada orang lain?
- Apakah kehadiran saya membuat orang lain semakin merasakan kasih, damai, pengharapan, dan kebaikan Kristus?
Kita tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk menjadi berkat. Kita dapat mulai dari tempat kita berada, dengan apa yang kita miliki, dan melalui orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita.
Sebab berkat yang kita terima bukanlah akhir dari perjalanan iman. Berkat itu menjadi sebuah panggilan: diterima dengan syukur, dihidupi dengan iman, dan dibagikan dalam kasih.
Ya Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas segala berkat yang telah Engkau curahkan dalam kehidupan kami.
Engkau telah memberikan kepada kami Kristus, sumber keselamatan, pengharapan, dan kehidupan. Ajarlah kami seperti Bunda Maria, yang menerima kehendak-Mu dengan iman dan membawa Kristus kepada sesama.
Tolonglah kami agar tidak hanya menjadi orang yang menerima berkat, tetapi juga menjadi pembawa berkat bagi orang-orang di sekitar kami.
Ketika ada yang membutuhkan penghiburan, jadikanlah kami pembawa penghiburan. Ketika ada yang kehilangan harapan, jadikanlah kami pembawa pengharapan. Ketika ada yang terluka, ajarlah kami menghadirkan kasih. Ketika ada perselisihan, jadikanlah kami pembawa damai.
Santa Perawan Maria, Bunda Allah dan Bunda kami, doakanlah kami agar seperti engkau, kami senantiasa membawa Kristus dalam hidup kami dan mengarahkan setiap orang yang kami jumpai kepada-Nya.
Semoga suatu hari nanti, setelah menyelesaikan perjalanan iman kami di dunia ini, kami pun diperkenankan mengambil bagian dalam kemuliaan yang telah Engkau janjikan kepada umat-Mu.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.
Auctor Articuli
Jadilah pembawa berkat Kristus yang kamu terima bagi sesama.


