Renungan Selasa Pekan Paskah III
Dalam perjalanan iman, kita sering berharap bahwa mengikuti Tuhan akan membawa kenyamanan. Namun, bacaan hari ini justru menunjukkan hal yang berbeda. Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, menghadapi penolakan keras karena kebenaran yang ia sampaikan. Ia berbicara dengan keberanian, meski tahu bahwa risikonya besar.
Di tengah tekanan dan kekerasan, Stefanus tidak mundur. Ia tetap memandang kepada Tuhan. Bahkan saat hidupnya terancam, hatinya tetap dipenuhi iman dan pengharapan. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kesetiaan kepada Tuhan bukanlah soal situasi yang nyaman, melainkan keberanian untuk tetap berdiri dalam kebenaran.
Sementara itu, dalam Injil, orang banyak mencari Yesus karena tanda-tanda dan kebutuhan jasmani. Namun Yesus mengarahkan mereka kepada sesuatu yang lebih dalam—iman yang sejati. Ia mengungkapkan bahwa diri-Nya sendiri adalah sumber hidup yang sesungguhnya.
Kristus adalah roti hidup yang menguatkan jiwa kita. Ketika dunia menolak, ketika tekanan datang, ketika kita merasa sendiri—Dialah yang memberi kekuatan. Kesetiaan kepada Kristus mungkin membawa kita pada tantangan, tetapi juga membawa kita pada hidup yang sejati.
Semangat Stefanus mengingatkan kita bahwa iman yang sejati tidak mudah goyah. Ia tetap mengasihi, tetap percaya, bahkan di saat paling sulit. Inilah panggilan kita: menjadi terang, bukan hanya saat mudah, tetapi justru saat gelap.
Apakah aku tetap setia pada kebenaran ketika menghadapi penolakan?
Apakah aku datang kepada Kristus sebagai roti hidup, atau hanya mencari-Nya saat butuh saja?
Tuhan Yesus, Engkaulah roti hidup yang menguatkan jiwaku. Dalam setiap tekanan dan penolakan, ajarilah aku untuk tetap setia pada kebenaran. Berilah aku iman yang teguh seperti Stefanus, agar aku berani bersaksi tentang Engkau dalam hidupku sehari-hari. Kuatkanlah aku dengan rahmat-Mu, agar aku tetap menjadi terang di tengah dunia. Amin.




