KALENDER LITURGI

📖 Bacaan
Memuat...
🙏 Renungan
Memuat...

Ujung Stola dan Air Mata

Ujung Stola dan Air Mata

Cerpen Rohani


Lonceng Gereja berdentang, suaranya lantang terdengar pagi itu, mengalahkan hiruk pikuk riuhnya perkotaan. Aku bangkit dari tempat tidurku dan mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti Misa Tahbisan Diakon di Gereja Paroki St. Petrus ini. Jarak gereja dengan tempat penginapanku tidak terlalu jauh, +- 500 Meter, aku bisa berjalan kaki menuju Gereja.

Satu jam sebelum perayaan Misa di Mulai, aku melangkahkan kaki ke Gereja. Di halaman gereja penuh dengan hiasan, benner-benner ucapan selamat kepada para Diakon berjejer di pagar gereja. Aku masuk melalui gerbang utama Gereja, melangkah melewati tenda dengan bangku-bangku yang belum terisi semua.

Para Panitia disibukan dengan aktivitas mereka masing-masing, sesampainya di Pintu Gereja, aku di sambut 3 orang gadis yang memakai selendang kuning dengan name tag bertuliskan Panitia. "Dimana aku bisa duduk?". Salah seorang menunjuk kearah bangku Kosong di depan, dengan mengatakan "Di sana." Dia mengantarku menuju bangku panjang baris ke lima dan masih kosong.

Aku berlutut, membuat tanda salib. "Tuhan, jika ini yang terbaik baginya… jagalah dia.” hanya itu yang kuungkapkan dalam hatiku, dan kembali duduk.

Umat mulai memenuhi Gereja, tepat disampingku ada empat orang suster muda dan beberapa anak-anak muda mungkin OMK.

Pandanganku tertuju kepada Bangku-bangku kosong di sekeliling altar, kadang aku memandang salib besar yang tergantung di dinding belakang altar. Aku duduk melamun dengan pikiran kosong.

Lamunanku berakhir saat lonceng kecil berbunyi tanda perarakan Misa dimulai, semua bangkit berdiri mengumandangkan lagu pembukaan. Misdinar satu persatu masuk diikuti Calon-calon Diakon, para Imam dan terakhir Uskup dengan senyumnya mengenakan Pakaian liturgi lengkap.

Salah satu Calon Diakon adalah Frater Laurentius Leo, ia berjalan diapit kedua orang tuanya yang sangat aku kenal, saat tepat melintas di sampingku, tak tertahanku lagi air mataku mulai berlinang, apalagi saat tante selvi menepuk bahuku dengan lembut sembari Paman Sandi tersenyum dan mengangkuk bersamaan dengan Leo juga tersenyum kearahku.

Selama perayaan aku beberapa kali tidak dapat membendung air mata, apa lagi di saat Litani Orang Kudus dinyanyikan membawaku mengingat masa-masa indah sewaktu SMP hingga SMA dengan Leo. Saat selesai SMP, ia menyatakan cintanya kepadaku, aku menerimanya karena perasaanku pun seirama dengannya, kami memutuskan memilih SMA yang sama, banyak kisah indah kami lalui bersama-sama. Setelah menyelesaikan SMA aku melanjutkan Kuliah ke Jakarta, untuk menggapai cita-citaku semejak kecilnyang tidak pernah berubah yaitu menjadi Bidan. Kami sepakat setelah menyelesaikan Study jenjang Kuliah, kami akan bertunangan dan menikah.

Saat aku memulai kuliah, di semester kedua, seakan-akan aku disambar Petir, Leo memutuskan hubungan Kami, tentu aku tidak terima dengan keputusannya tanpa dasar, semejak itu ia tidak dapat dihubungi, aku terus menanti dan meminta penjelasan kepadanya, namun ia menghilang.

Saat Libur, aku kembali ke kampung dan tidak pernah bertemu dengannya, Om Sandi dan Tante Selvi selalu mengatakan "Leo tidak pulang libur na, atau libur kalian tidak sama. Kamu harus kuat dan terus berdoa" mereka tidak memberi tahu Leo Kuliahnya dimana? Bahkan sampai aku menyelesaikan Kuliahku dan menjadi Bidan di salah satu Puskesmas di Kota kami ini.

Saat bertugas piket pagi, sekitar jam 09:30, Tante Selvi datang ke Puskesmas, ia melangkah ke arahku, aku menatapnya dengan senyum, pikirku ia ingin chek up atau berobat. Sesampainya di meja tunggu ia lansung memegang lenganku "Na, tante ingin bicara dengan mu" aku berdiri membawanya ke taman belang puskesmat. "Ada apa tan" tanyaku, Tente Selvie mengeluarkan Amplop lebar bertuliskan Undangan, aku terdiam setelah melihat dalam undangan tersebut ada Foto Leo dengan mengenakan Jubah Putih serta di bagian bawahnya tertulis Undangan Tahbisan Diakon. Air mataku berlinang, tante Selvi memelukku, ia meminta maaf, tidak dapat menahan Leo dengan keputusannya. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Tente Selvie

. "Kamu harus Iklas, pasti Rencana Tuhan selalu Indah, tetap bersabar ya Len" kata tante Selvie mwngakiri pertemuan kami. Aku beru menyadari mengapa ia ngotot untuk memutuskan hubungan kami, yang selama ini juga tidak kutanggapi karena aku masih terus berharap dengannya.

....... Perayaan Misa telah selesai, semua orang yang hadir berebut untuk mengucapkan selamat, dan berfoto-foto dengan para Diakon yang di tahbiskan. Setelah beberapa saat aku keluar Gereja menuju tempat bangku permanen dari beton di bawah pohon rindang tepat di samping gereja, disaat Semua orang lansung menuju tenda yang disiapkan Panitia, sembari menikmati hidangan makanan yang begitu banyak dan hiburan seni pertunjukan, ada Sambutan dan nyanian serya tari-tarian.

Aku duduk termenung, panas terik namun aku bisa teduh karena rimbun dedaunan pohon di atas bangku ini. Aku terkejut saat ada suara lembut menyapaku "Len" aku lansung mengarahkan Pandanganku ke arah suara tesebut, kulihat Leo berdiri di sampingku, aku berdiri tidak tahu mau mengucapkan apa. Tak sadar aku memeluknya, menangis sejadi-jadinya di pelukannya. Ia membiarkan dirinyabku peluk tanpa suara. Saat aku mulai reda menangis aku melepaskan pelukanku padanya, ia menarik kain yang menyilang dari bahu kanan ke pinggang Kirinya, "Usaplah airmatamu" seraya meraih dan memberikan ujung kain tersebut. "Terima Kasih" jawabku sambil tersedu menangis dan meraih ujung kain tersebut.

"Stola ini bukan tanda aku berhenti mencintaimu,” katanya pelan. “Aku tetap menyayangimu, Len. Tapi cintaku kini kuserahkan seluruhnya kepada-Nya.” Kamu masih muda, Kamu Cantik, aku menjawab Panggilan-Nya adalah keputusan yang matang" lanjutnya "Namamu akan selalu ku sebut dalam doa-doa Pribadiku supaya kamu menemukan kebahagiaanmu".

“Aku tidak kehilanganmu Diakon” aku melapas Stolanya ini kali pertama aku menyapanya dengan gelar Relegiusnya "Aku hanya menyerahkanmu, Menyerahkan mu kepada Kristus yang memilihmu"

"Terima Kasih Diakon Lorensius Leo, Aku Iklas, aku akan berdoa supaya Diakon setia pada jalan panggilan Diakon".

Aku meraih tangannya dan menyalamnya dan mencium tangannya dengan hormat, "Terima Kasih Diakon", aku membalikan badanku dan berjalan kearah Gerbang Utama Gereja, dan kembali ke Penginapanku.

Sore ini cerah, pukul 5 aku sudah sampai di Bandara, aku duluan Pulang ke kotaku yang menimpam banyak kenangan indah dengan Diakon Leo.

Senja membawa suasanaku untuk menutup lembaran kehidupan dan memulai lembaran baru, harapan baru untukku kedepan.

Dan cinta itu…

yang pernah tumbuh sederhana di bangku sekolah,

kini hidup dalam bentuk yang lebih suci:

bukan lagi dalam genggaman tangan,

melainkan dalam doa yang tak pernah terputus.


"Cinta sejati bukan tentang memiliki, melainkan tentang mengikhlaskan ketika Tuhan memanggil."

MENU