Renungan harian Katolik Sabtu Pekan Prapaska V
Bacaan hari ini menunjukkan dua kenyataan yang sering kita alami dalam hidup: di satu sisi, rencana Allah yang penuh kasih dan keselamatan; di sisi lain, rencana manusia yang dipenuhi ketakutan, iri hati, bahkan kejahatan.
Dalam Bacaan Pertama, Tuhan berjanji untuk mempersatukan umat-Nya yang tercerai-berai. Ia tidak hanya mengumpulkan mereka, tetapi juga memulihkan hubungan mereka dengan-Nya dan menjadikan mereka satu bangsa di bawah satu gembala.
Janji ini menunjukkan bahwa Allah adalah sumber persatuan sejati. Ketika manusia terpecah oleh dosa, kepentingan, dan ego, Allah justru bekerja untuk memulihkan dan menyatukan.
Namun dalam Injil, kita melihat sisi lain: setelah Yesus melakukan mukjizat besar, banyak orang justru merencanakan untuk membunuh-Nya. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan membuat para pemimpin memilih jalan kejahatan.
Ironisnya, di balik rencana jahat itu, Allah sedang menggenapi rencana keselamatan-Nya. Bahkan imam besar tanpa sadar bernubuat bahwa kematian Yesus akan membawa keselamatan bagi banyak orang.
Inilah misteri iman kita: Tuhan mampu membalikkan kejahatan menjadi jalan keselamatan. Salib yang tampak sebagai kekalahan, justru menjadi kemenangan kasih Allah.
Hari ini kita diajak untuk percaya: ketika kita menghadapi ketidakadilan, penolakan, atau situasi yang tampak gelap, Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Ia tetap hadir, memulihkan, dan menuntun kita menuju kehidupan.
- Apakah aku pernah merasa hidupku dikelilingi oleh ketidakadilan atau rencana buruk dari orang lain?
- Apakah aku tetap percaya bahwa Tuhan bekerja dalam situasi itu?
- Bagaimana aku bisa menjadi alat persatuan di tengah perpecahan di sekitarku?




