KALENDER LITURGI

📖 Bacaan
Memuat...
🙏 Renungan
Memuat...

Tepuk Tangan Saat Komuni: Surat Tegas Romo Franz Magnis Suseno, SJ

Romo Franz Magnis Suseno, SJ — Tepuk Tangan saat Komuni Kudus

Komuni Kudus - suasana Misa
Ilustrasi: suasana Komuni Kudus dalam perayaan Ekaristi. (opsional)

Surat Romo Franz Magniz Soeseno, SJ yang dilayangkan ke Redaksi Majalah Hidup mengenai fenomena tepuk tangan umat pada saat Komuni Kudus dibagikan.

Surat — Franz Magniz Soeseno, SJ

Perkenankan saya berbagi grundelan dengan para pembaca terhormat.

Malam Natal saya konselebrasi dalam Misa di salah satu Gereja Paroki. Hiasannya bagus, liturgi pantas, khotbah menyentuh, koor menyanyi indah, umat bersemangat. Hanya ini: waktu Komuni Suci dibagikan, seorang bapak dari koor dengan suara penyanyi profesional, menyanyi solo, sangat ekspresif. Sesudah selesai, umat penuh semangat bertepuk tangan. Pada saat komuni dibagi...!

Saya amat terkejut. Kok bisa...! Komuni adalah peristiwa paling sakral bagi umat Katolik, bahkan ritus paling sakral dari semua agama. Pada saat itu, seluruh perhatian umat seharusnya seratus persen terpusat hanya pada satu ini: Yesus, Allah beserta kita yang sedang datang. Masak pada saat suci itu umat membawa diri bak penonton sinetron...! (Pastor paroki kemudian menceritakan bahwa ia sudah memperingatkan umat, tetapi tanpa hasil dan bahwa pernah waktu itu mau memberikan Hosti Suci kepada seorang umat, dia itu bertepuk tangan dulu).

Apa umat belum pernah membaca 1 Korintus 11:29? Terus terang, andaikata saya yang memimpin upacara, saya akan langsung menghentikan seluruh pembagian Komuni dan mengajak umat berdoa Doa Tobat.

Saya mengalami tepuk tangan seperti itu juga pada Perayaan Ekaristi lain. Suatu kesesatan penghayatan yang memalukan, apabila orang tidak lagi bisa membedakan antara ibadat yang diarahkan kepada Allah dan acara hiburan...! Apakah dilupakan bahwa hormat semua pemeran dalam Ekaristi – pastor, pengkhotbah, koor, umat dan lain-lain terletak dalam pelayanan tanpa pamrih, demi kemuliaan Tuhan, yang mereka berikan? Apakah koor-koor kita lupa bahwa tugas satu-satunya mereka adalah membuka hati umat bagi Tuhan dengan keindahan lagu-lagu mereka. Tentu tepuk tangan pada akhir Misa, pada saat Pastor menyatakan terima kasih adalah tepat dan sesuai.

Sebagai catatan :
Lagu solo sebaiknya hanya diadakan pada akhir ibadat. Hal itu sepenuhnya juga berlaku bagi Ekaristi perkawinan. Kalau perkawinan ditempatkan dalam Ekaristi, seluruh perayaan harus berupa pujian terhadap Allah dan bukan pemanis para mempelai. Kalau iman kita pada Ekaristi mau credible, kita harus belajar kembali menunjukkan sikap hormat terhadap Allah yang hadir.

- Franz Magniz Soeseno, SJ
Johar Baru, Jakarta Pusat

Referensi Kitab Suci

1 Korintus 11:29
"Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya."

Catatan & Refleksi singkat

  • Komuni Kudus adalah momen sentral dalam Ekaristi — perhatian iman diarahkan pada kehadiran Kristus.
  • Tepuk tangan yang menggantikan suasana doa dapat menandakan pergeseran pemahaman antara ibadat dan pertunjukan.
  • Usulan praktis: penempatan lagu solo di akhir ibadat; edukasi umat tentang tata cara Komuni; penguatan peran liturgis koor sebagai pembuka hati untuk perjumpaan dengan Tuhan.

Artikel: Auctor Articuli - LUX SPES


MENU