Pak Gimin - Katekis di lereng gunung merapi
Pengalaman Iman: Pak Gimin, Katekis dari Lereng Merapi
Di lereng Gunung Merapi, di sebuah dusun kecil, seorang pria bernama Pak Gimin memilih jalan hidup yang berbeda: dari masa lalu yang penuh pergumulan menuju komitmen iman yang sederhana namun nyata. Ini adalah kisah tentang pertobatan, pelayanan, dan karya yang menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat plural.
Awal Pertobatan
Hingga masa remajanya, hidup Pak Gimin dipenuhi kebiasaan yang keras—kerja di ladang, berkumpul dengan teman, dan kebiasaan minum tuak. Pendidikan formalnya berhenti setelah SD. Namun hati manusia rapuh terhadap panggilan; suatu hari ia merasakan damai saat mengikuti ibadat lingkungan yang sederhana. Perlahan hati itu tersentuh, hingga akhirnya ia memutuskan untuk dibaptis pada tahun 1991.
Perjalanan Iman yang Tidak Sekali Jadi
Menjadi Katolik tidak menjadikan hidupnya langsung sempurna. Ia tetap bergulat dengan kebiasaan lama, namun memilih untuk terus hadir dalam pertemuan OMK, belajar Kitab Suci, dan melayani ketika kesempatan datang. Suatu kekuatan sederhana menggerakkan hidupnya—ketekunan yang lahir dari pengalaman pribadi menemukan damai dalam doa.
Karya Nyata: Sekolah Sawah
Bersama istrinya, Ibu Monica, ia merintis sebuah program yang mereka sebut "sekolah sawah": sebuah ruang belajar bagi anak-anak kurang mampu yang menggabungkan pendidikan praktis (bertani, merawat ternak) dan pembentukan karakter (jujur, kerja keras, tolong-menolong). Program ini menerima anak dari berbagai agama dan latar budaya, menjadi saksi kerjasama lintas iman di desa mereka.
“Kami ingin anak-anak di sini punya masa depan, tapi juga punya hati yang baik.” — Ibu Monica
Kesaksian di Tengah Kemajemukan
Dusun di lereng Merapi bukan hanya berisi umat Katolik. Ada berbagai keyakinan yang hidup berdampingan. Namun keluarga Pak Gimin dikenal ramah dan terbuka—mereka sering mengundang tetangga untuk gotong royong, pentas seni, dan kegiatan lingkungan. Dalam tindakannya, iman mereka menjadi bukti nyata: bukan sekadar kata, tetapi pelayanan yang merangkul.
Buah dan Warisan
Sekarang, Pak Gimin melayani sebagai katekis awam di stasi. Bukan karena ia sempurna, melainkan karena ketulusan dan kesediaannya membimbing generasi muda. Sekolah sawah terus berjalan, menjadi warisan kecil yang menumbuhkan iman dan harapan.
Renungan Kitab Suci
“Kamu adalah garam dunia... Kamu adalah terang dunia.” — Mat. 5:13–14. Kisah ini mengingatkan kita bahwa panggilan iman sering terwujud dalam hal-hal sederhana: bertani, mendidik, dan menyalakan harapan di komunitas kecil.
Panggilan untuk Kita Semua
Kisah Pak Gimin mengajak pembaca merenung: bagaimana kita menghadirkan iman dalam kehidupan sehari-hari? Apakah iman kita terlihat dalam perbuatan kecil dan konsisten? Di mana pun kita berada, kesaksian itu dimulai dari rumah, komunitas, dan tindakan kasih sederhana.




